Sosok Susan Jasmine Zulkifli belakangan terus disorot. Lurah Lenteng
Agung, Jakarta Selatan, ini jadi pusat perhatian bukan karena persoalan
buruknya kinerja melainkan adanya penolakan sebagian warganya yang
beralasan beda agama.
Mendapat cobaan yang cukup pelik, perempuan berkulit putih ini menegaskan
tidak ada kata untuk mundur. Kepada detikcom yang diajak berkeliling dalam satu mobil, Selasa (01/10/2013), Susan mengungkapkan salah satu alasannya.
"Karena sudah komitmen, saya tetap harus maju. Suami saya juga begitu. Sebelum saya maju (jadi lurah), saya minta izin dulu (ke suami)," kata Susan menegaskan. "Kalau boleh saya maju dan tidak bakal mundur lagi. Haram bagi saya kalau sudah maju untuk mundur. Jiahhh," lanjut Susan disertai tawa kecil.
Namun begitu Susan mengakui pihak keluarganya mengkhawatirkan dirinya. "Namanya suami ketar-ketir juga lihat istrinya mengalami kejadian seperti sekarang. Tapi karena saya waktu itu lihat sudah telat untuk karir, umur saya sekarang sudah 43, saya juga gak mau pensiun sebagai kepala seksi di kelurahan saja," ujar Susan yang sebelumnya menjadi pegawai di Kelurahan Senen itu.
Susan, yang mengawali karier pegawai negeri sipil sebagai seorang staf di Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) selama sekitar 20 tahun itu juga mengaku tidak ada perasaan menyesal menjadi lurah setelah adanya kejadian demonstrasi terhadap dirinya.
Justru, kata Susan, kalau tidak ada kejadian ia didemo warga, Gubernur dan Wakil Gubernur DKI tidak melihat dirinya. "Sekarang begini, ada 267 lurah di Jakarta, kenapa saya yang dibeginikan? Teman saya yang lurah juga sama seperti saya nonmuslim tidak jadi persoalan. Warganya juga mayoritas muslim," kata Susan mempertanyakan.
"Tapi, justru ini jadikan saya tantangan untuk berbuat lebih baik dan fokus kerja. Biar waktu yang menentukan," lanjut alumni FISIP Universitas Indonesia Jurusan Administrasi Negara ini.
Sejumlah warga Lenteng Agung mengaku tidak mempersoalkan keyakinan agama yang dianut Lurah Susan. Namun, yang penting bisa membawa perubahan bagi pelayanan terhadap warga.
Bekas Ketua RT 04/RW 05 Kelurahan Lenteng Agung yang juga sesepuh warga, H. Abdul Rahman, 64 tahun, mengatakan persoalan agama itu masing-masing urusan pribadi. Menurutnya, tidak baik perbedaan agama dijadikan untuk menghujat seseorang tanpa disertai penjelasan terlebih dulu.
"Apalagi hujatan lewat demo pekan lalu itu mengganggu pelayanan administrasi warga,” katanya saat ditemui detikcom di rumahnya, Selasa lalu.
Dia mengaku secara pribadi melihat sosok Susan adalah pamong yang bisa membaur dengan warganya. Tidak ada sikap kaku meski kadang sejumlah warga antipati terhadap Susan saat kerja bakti hari Minggu untuk persiapan Piala Adipura.
Bahkan secara gamblang, ia membandingkan dengan lurah Lenteng Agung sebelumnya yang kaku dan tidak rendah hati. “Kalau lurah yang lama boro-boro datang lihat langsung warga. Saya saja kalau ke kantor Kelurahan jarang lihat dia,” ujarnya.
Adapun Ketua RT 13/RW 05, Muhayar, 73 tahun, mengatakan persoalan yang terjadi di wilayah Lenteng Agung hanya perbedaan pendapat. Ia yakin malasah ini secara perlahan bisa diselesaikan dan diterima oleh kedua pihak.
SUMBER : http://news.detik.com
Mendapat cobaan yang cukup pelik, perempuan berkulit putih ini menegaskan
tidak ada kata untuk mundur. Kepada detikcom yang diajak berkeliling dalam satu mobil, Selasa (01/10/2013), Susan mengungkapkan salah satu alasannya.
"Karena sudah komitmen, saya tetap harus maju. Suami saya juga begitu. Sebelum saya maju (jadi lurah), saya minta izin dulu (ke suami)," kata Susan menegaskan. "Kalau boleh saya maju dan tidak bakal mundur lagi. Haram bagi saya kalau sudah maju untuk mundur. Jiahhh," lanjut Susan disertai tawa kecil.
Namun begitu Susan mengakui pihak keluarganya mengkhawatirkan dirinya. "Namanya suami ketar-ketir juga lihat istrinya mengalami kejadian seperti sekarang. Tapi karena saya waktu itu lihat sudah telat untuk karir, umur saya sekarang sudah 43, saya juga gak mau pensiun sebagai kepala seksi di kelurahan saja," ujar Susan yang sebelumnya menjadi pegawai di Kelurahan Senen itu.
Susan, yang mengawali karier pegawai negeri sipil sebagai seorang staf di Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) selama sekitar 20 tahun itu juga mengaku tidak ada perasaan menyesal menjadi lurah setelah adanya kejadian demonstrasi terhadap dirinya.
Justru, kata Susan, kalau tidak ada kejadian ia didemo warga, Gubernur dan Wakil Gubernur DKI tidak melihat dirinya. "Sekarang begini, ada 267 lurah di Jakarta, kenapa saya yang dibeginikan? Teman saya yang lurah juga sama seperti saya nonmuslim tidak jadi persoalan. Warganya juga mayoritas muslim," kata Susan mempertanyakan.
"Tapi, justru ini jadikan saya tantangan untuk berbuat lebih baik dan fokus kerja. Biar waktu yang menentukan," lanjut alumni FISIP Universitas Indonesia Jurusan Administrasi Negara ini.
Sejumlah warga Lenteng Agung mengaku tidak mempersoalkan keyakinan agama yang dianut Lurah Susan. Namun, yang penting bisa membawa perubahan bagi pelayanan terhadap warga.
Bekas Ketua RT 04/RW 05 Kelurahan Lenteng Agung yang juga sesepuh warga, H. Abdul Rahman, 64 tahun, mengatakan persoalan agama itu masing-masing urusan pribadi. Menurutnya, tidak baik perbedaan agama dijadikan untuk menghujat seseorang tanpa disertai penjelasan terlebih dulu.
"Apalagi hujatan lewat demo pekan lalu itu mengganggu pelayanan administrasi warga,” katanya saat ditemui detikcom di rumahnya, Selasa lalu.
Dia mengaku secara pribadi melihat sosok Susan adalah pamong yang bisa membaur dengan warganya. Tidak ada sikap kaku meski kadang sejumlah warga antipati terhadap Susan saat kerja bakti hari Minggu untuk persiapan Piala Adipura.
Bahkan secara gamblang, ia membandingkan dengan lurah Lenteng Agung sebelumnya yang kaku dan tidak rendah hati. “Kalau lurah yang lama boro-boro datang lihat langsung warga. Saya saja kalau ke kantor Kelurahan jarang lihat dia,” ujarnya.
Adapun Ketua RT 13/RW 05, Muhayar, 73 tahun, mengatakan persoalan yang terjadi di wilayah Lenteng Agung hanya perbedaan pendapat. Ia yakin malasah ini secara perlahan bisa diselesaikan dan diterima oleh kedua pihak.
SUMBER : http://news.detik.com

COMMENTS